Bulan Muharram adalah bulan mulia. Dalam kalender Jawa disebut bulan Sura. Kata “Sura” berasal dari Bahasa Arab ’Asyuro yang berarti sepuluh. Sebab dalam tanggal 10 Muharram memang banyak kejadian-kejadian besar, seperti disebutkan dalam Kitab Tanbihul Ghafilin dan kitab hasyiyah I’anatut Thalibin. Di antara peristiwa-peristiwa besar pada bulan Muharram antara lain seperti: penciptaan langit dan bumi, diterima taubatnya Nabi Adam A.S., diangkatnya derajat Nabi Idris A.S., dikeluarkannya Nabi Nuh A.S. dari perahu setelah peristiwa banjir bandang, diselamatkannya Nabi Ibrahim A.S. dari api Raja Namrud, diturunkannya kitab Taurat kepada Nabi Musa A.S., dikembalikannya kerajaan Nabi Sulaiman A.S., ditetapkannya ampunan seandainya Nabi Muhammad  . mempunyai dosa yang telah berlalu maupun yang akan datang, dan ditenggelamkannya Raja Firaun di laut.

Terdapat beberapa amalan yang dianjurkan di bulan Muharram, salah satunya adalah berpuasa. Puasa ‘Asyuro (10 Muharram) hukumnya sunnah. Diantara keutamaan-keutamaan puasa ‘Asyuro seperti disebutkan dalam kitab Shahih Muslim antara lain:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُاللهِ المُحَرَّمُ

Sebaik-baik puasa setelah puasa Ramadhan adalah bulan Allah yang bernama Muharram.” (H.R. Muslim)

Nabi saw. ditanya mengenai keutamaan puasa ‘Asyuro. Beliau menjawab, (Puasa ‘Asyuro) akan menghapus dosa setahun yang lalu.” (H.R. Muslim)

Disunnahkan pula puasa Tasu’a (9 Muharram) dan 11 Muharram agar berbeda dengan Kaum Yahudi yang mengkhususkan puasa hanya di tanggal 10 Muharram saja.

صُوْمُوْا يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ وَخَلَفُ اليَهُوْدَ وَصُوْمُوْا قَبْلُهُ يَوْمًا وَبَعْدَهُ يَوْمًا

Berpuasalah kalian di hari ‘Asyuro dan buatlah berbeda dengan kaum Yahudi, (maka) berpuasalah kalian 1 hari sebelumnya (puasa Tasu’a) dan sehari sesudahnya.” (H.R. Imam Ahmad).

Selain berpuasa, amalan yang dianjurkan di bulan Muharram berdasarkan kitab I’anatut thalibin yaitu menyantuni anak yatim, ziarah ‘ulama, menengok orang sakit, menggunakan celak, memotong kuku, memperbanyak shodaqoh dan membaca surat Al-Ikhlas 1000 kali. Mengenai dalil tentang santunan anak yatim pada bulan Muharram disebutkan dalam kitab Tanbihul Ghafilin bahwa Rasulullah saw. bersabda:
مَنْ صَامَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ مِنَ الْمُحَرَّمِ أَعْطَاهُ اللَّهُ تَعَالَى ثَوَابَ عَشْرَةِ آلافِ مَلَكٍ ، وَمَنْ صَامَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ مِنَ الْمُحَرَّمِ أُعْطِيَ ثَوَابَ عَشْرَةِ آلَافِ حَاجٍّ وَمُعْتَمِرٍ وَعَشْرَةِ آلافِ شَهِيدٍ ، وَمَنْ مَسَحَ يَدَهُ عَلَى رَأْسِ يَتِيمٍ يَوْمَ عَاشُورَاءَ رَفَعَ اللَّهُ تَعَالَى لَهُ بِكُلِّ شَعْرَةٍ دَرَجَةً

“Barangsiapa berpuasa para hari Asyura (tanggal 10) Muharram, niscaya Allah akan memberikan seribu pahala malaikat dan pahala 10.000 pahala syuhada’. Dan baragsiapa mengusap kepala anak yatim pada hari Asyura, niscaya Allah mengangkat derajatnya pada setiap rambut yang diusapnya“.

Sanad hadits ini memang dla’if (lemah), tapi isinya (matan hadits) boleh diamalkan, karena berkaitan dengan kebajikan-kebajikan (fadla’ilul a’mal).

Mengenai maksud “mengusap kepala anak yatim” dalam hadits di atas, sebagian ulama mengartikannya sebagai makna hakiki (mengusap kepala dengan tangan), dan sebagian lainnya mengartikan sebagai makna kinayah (kiasan).

Kasih sayang kepada anak yatim, tentu saja bukan hanya diwujudkan dengan belaian rambut belaka, tapi juga mengurus anak yatim secara baik dan memberi santunan untuk sandang, pangan, papan, dan pendidikannya. Maka, pemberian santunan bukan hanya dilakukan pada tanggal 10 Muharram saja, tapi juga pada bulan-bulan lainnya.

Wallahu A’lam.

Sumber:

Kitab Tanbihul Ghofilin karya Syeikh Nashr bin Muhammad bin Ibahim as-Samarqandi

Kitab I’anatut Tholibin jilid 2 karya Sayyid Abu Bakar Muhammad Syatha

Kitab Shahih Muslim karya Imam Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj al-Naisaburi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *