Mbah Hisyam lahir pada tahun 1904 dengan nama kecil Muhammad Qosim. Putra keempat dari tujuh bersaudara dengan ayah bernama Abdul Karim. Keluarga sederhana tersebut tinggal di Gempuran Kalijaran. Bapak Abdul Karim menjabat sebagai bau desa (Kadus) dan mempunyai kesibukan lain, yaitu menjadi guru rodat, sejenis kesenian tradisional pedesaan.

Hisyam kecil dikenal sangat menghormati orangtuanya, taat beribadah, cerdas, dan rajin belajar meski hidup dengan kondisi seadanya.

Hisyam remaja memulai mengikuti pendidikan formal di sekolah angka loro (SD), sorenya beliau mengaji di mushola terdekat. Kemudian melanjutkan pendidikan di pondok pesantren Desa Leler Randegan Banyumas selama empat tahun di bawah bimbingan Al Mukarom Syeikh K.H. Muhammad Zuhdi. Beliau melanjutkan nyantri-nya di pondok pesantren Desa Jampes Bataputih Kediri Jawa Timur dengan pengasuh  Syeikh K.H. Muhammad Dahlan dan Syaikh K.H. Muhammad Ikhsan Dahlan kurang lebih selama delapan tahun.

Selama ditempa di lingkungan pesantren, Hisyam dewasa sering menyempatakan sowan kepada ulama-ulama sepuh saat itu, seperti Syeikh K.H. Hasyim Asy’ari untuk ngalap berkah. Kitab Al Muwaththa karangan Imam Malik, guru dari Imam Syafi’i diberikan oleh K.H. Hasyim Asy’ari kepada mbah Hisyam.

Sepulang dari pondok pesantren, Hisyam dewasa menikah dengan Siti Rohmah, putri  Bapak Sopadi Cakradirana. Pernikahan tersebut berlangsung ketika Hisyam dewasa berusia 25 tahun. Dari pernikahan ini lahir 4 orang putra dan satu putri, yaitu Achmad Musodik Supriyadi, Achmad Muzammil, Achmad Muzayyin, Siti Afifah dan Achmad Musta’idz Billah.

2 Februari 1929 atau Rabu kliwon, 22 Rajab 1347 Hijriyah mbah Hisyam mendirikan pondok pesantren di dukuh Sokawera Kalijaran Karanganyar Purbalingga, sehingga pesantren tersebut dikenal dengan nama Pondok Pesantren Sukawarah yang juga dikenal dengan nama Pondok Pesantren Roudlotus Sholihin. Di lokasi itu pula Mbah Hisyam mengadakan pengajian rutin yang dikenal dengan pengajian setuan. Pengajian tersebut ramai dihadiri oleh  orang-orang dari penjuru Purbalingga bahkan Pemalang.

Pada tahun 1942 Mbah Hisyam menikah dengan Siti Darojah dari Desa Karangasem Kertanegara. Dari pernikahan tersebut lahir 4 orang putra dan satu putri, yaitu Achmad Mustansir Billah, Achmad Muntasir, Achmad Mukhdir, Siti Barokah dan Achmad Mubasyir. Dari sinilah kemudian lahir Pondok Pesantren Salafiyah Karangasem Kertanegara.

Pada masa perang kemerdekaan, Pondok Sukawarah menjadi semacam tempat pengkaderan para pejuang. Selain mengaji, sebagian dari santri juga dibekali ilmu-ilmu lain seperti baris-berbaris, belajar huruf morse, dan juga belajar pertolongan pertama dalam kecelakaan. Mereka dilatih kader Anshor setempat.

Tentang gambaran pesantren ini di zaman lampau pernah dikisahkan oleh KH Syaifuddin Zuhri dalam buku Guruku Orang-Orang Dari Pesantren(1):

Suatu hari aku mengunjungi Pesantren Kalijaran, Purbalingga, sebuah pesantren dengan lebih kurang 700 orang santri yang datang dari segala pelosok di Jawa Tengah dan sebagian Jawa Timur. Pesantren itu terletak di daerah pegunungan, jauh dari kota. Tak ada kendaraan yang dapat digunakan untuk mencapai pesantren itu, bersepeda pun amat susahnya, karena harus berkali-kali menyeberangi sungai yang deras airnya, penuh dengan batu-batu kali pada tebing-tebingnya.

Kiai Hisyam. pemimpin Pesantren Kalijaran, menerima kedatanganku di pendapa rumahnya, di samping masjid. Seorang laki-laki bertubuh kekar dengan sinar matanya yang jernih, aku taksir usianya belum 50 tahun. Dengan mengenakan peci tarbus merah yang sudah lepas koncernya, dihiasi oleh jenggotnya yang tak begitu tebal, menimbulkan gambaran suatu wajah yang lucu, tetapi menyenangkan.

Karangan mbah Hisyam yang berupa kitab atau lembaran kebanyakan berupa nadom/syair ataupun terjemahan antara lain kitab Irsyadul ‘Awam dan Yah talim. Adapun kiprah di pemerintahan, Mbah Hisyam adalah PNS Depag pernah menjabat sebagai Kepala KUA Kecamatan Karanganyar Kabupaten Purbalingga. Bahkan, setelah pensiun masih dibutuhkan sumbangsihnya di Pengadilan Agama Purbalingga sebagai hakim. Selain itu, mbah Hisyam juga berkiprah di Nahdlatul Ulama sebagai Rois Syuriah PCNU Purbalingga selama enam masa jabatan.

Mbah Hisyam wafat pada hari Kamis kliwon 12 Januari 1989 Masehi atau 4 Jumadil Akhir 1409 Hijriyah.

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

(1)Zuhri, Syaifuddin. 2007. Guruku Orang-orang dari Pesantren. Yogyakarta: Pustaka Sastra LKIS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *